Beranda | Artikel
Bersandar Kepada Takdir Tapi Malas Berikhtiar
Rabu, 7 Juni 2023

Bersama Pemateri :
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary

Bersandar Kepada Takdir Tapi Malas Berikhtiar ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 9 Dzulqa’dah 1444 H / 29 Mei 2023 M.

Kajian Tentang Bersandar Kepada Takdir Tapi Malas Berikhtiar

Kita masih berbicara tentang sikap kaum sufi yang meninggalkan ikhtiar dan mengklaim diri mereka adalah orang-orang yang bertawakal. Di antara alasan melakukan apa yang menjadi anggapan benar tersebut adalah rasa malas untuk berusaha. Akhirnya mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban sampai menelantarkan keluarga dan bersandar kepada belas kasih orang lain. Ini tentunya adalah sikap yang salah. Dan sebagian dari mereka justru jatuh dalam perkara yang hina seperti mengemis.

Sebagaimana dinukil sebelumnya, ada seorang yang ingin menaikkan haji dengan bermodal tawakal. Maka Imam Ahmad mengatakan kepadanya: “Silakan kamu berangkat sendirian, jangan bersama rombongan.” Orang itu menjawab: “Tidak mau, aku ikut rombongan.” Maka Imam Ahmad berkata: “Berarti kamu bertawakal kepada bekal orang lain.”

Jadi orang-orang seperti ini sebenarnya memperturutkan rasa malasnya. Lalu dia berharap belas kasih orang lain. Sebenarnya dia bertawakal juga dengan tawakal yang lebih buruk, yaitu tawakal kepada manusia. Sementara dia mengklaim tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bersandar Kepada Takdir?

Di antara alasan lainnya, orang-orang seperti ini tidak mau berikhtiar adalah bersandar kepada takdir. Mereka berpegang dengan alasan yang sangat buruk, yaitu bersandar kepada takdir. Mereka mengatakan “Rezeki pasti akan datang menghampiri kami.” Ini adalah argumentasi yang sangat buruk. Karena jika ada orang yang meninggalkan ketaatan dan berkata: “Aku taat tetap tidak mengubah takdir yang telah ditentukan Allah. Jika aku ditakdirkan sebagai ahli surga aku pasti masuk surga. Namun jika aku ditakdirkan ahli neraka, aku pasti akan masuk neraka.”

Artinya dia beranggapan bahwa taat atau tidak taat tidak mengubah takdirnya. Tentunya ini adalah alasan yang hanya diucapkan oleh orang bodoh. Makanya ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa setiap orang telah ditentukan tempatnya di surga atau neraka. Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kalau begitu untuk apa kami beramal?” Maka kata Nabi:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kamu (jadilah kamu orang yang taat) karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditakdirkan atasnya.” (HR. Bukhari)

Maka usaha untuk meraih itu adalah kamu beramal menjadi orang yang taat. Jangan katakan “taat atau tidak taat sudah mengikuti ketentuan takdir.” Itu kan seolah-olah kita sudah tahu apa yang menjadi takdir kita. Nah, orang yang malas bekerja seolah-olah dia bisa pastikan bahwa itu akan menjadi rezekinya. Padahal dari mana dia tahu bahwa itu akan menjadi rezekinya dan pasti datang menghampirinya?

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/52963-bersandar-kepada-takdir-tapi-malas-berikhtiar/